Penyebab GOTO Keluar MSCI tetapi Bertahan di LQ45 Kata Analis

Penyebab GOTO Keluar MSCI tetapi Bertahan di LQ45 Kata Analis
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) [FOTO: NET].

JAKARTA - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) bakal terdepak dari MSCI Global Standard Indexes, namun posisinya terpantau masih bertahan sebagai konstituen di sejumlah indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk LQ45. Perbedaan acuan metodologi serta ambang batas likuiditas menjadi salah satu pemicu munculnya kondisi tersebut.

Langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mendepak GOTO dari jajaran indeks akan mulai berlaku efektif pascalayanan penutupan perdagangan 31 Agustus 2026.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyampaikan, faktor likuiditas menjadi pemicu utama GOTO tak lagi bertengger sebagai konstituen MSCI Indonesia Index.

“MSCI memang resmi menghapus GOTO dari MSCI Indonesia Index pada review Agustus 2026, efektif setelah penutupan 31 Agustus. Alasan utamanya adalah masalah likuiditas,” ujar Nafan, Sabtu malam (15/8/2026).

Terhitung sejak pertengahan Mei 2026, harga saham GOTO tertahan pada level Rp 50, yang menduduki batas harga terendah perdagangan saham di BEI. Situasi tersebut mengakibatkan mekanisme pembentukan harga alias price discovery menjadi sangat terbatas. Investor bereskalasi besar juga mendapati hambatan tatkala hendak mengeksekusi transaksi masuk atau keluar dari saham GOTO dalam volume tinggi.

“Kondisi tersebut membuat price discovery dan kemampuan investor besar untuk keluar-masuk posisi menjadi persoalan. Meski demikian, GOTO pada harga Rp 50, downside secara nominal memang sudah sangat terbatas,” kata Nafan.

Mengapa GOTO Masih Masuk LQ45?

Nafan menerangkan, pihak MSCI serta BEI mengusung metodologi dan tolok ukur tersendiri dalam menetapkan saham pembentuk indeks. 

MSCI mempunyai batasan cakupan saham (universe) serta indikator likuiditas (liquidity screen) khusus. Oleh sebab itu, suatu emiten dapat saja mengantongi kriteria indeks BEI, namun di saat bersamaan tidak memenuhi kriteria MSCI.

“LQ45 adalah indeks yang metodologinya ditentukan oleh BEI, sedangkan MSCI mempunyai metodologi, universe, dan liquidity screen sendiri. GOTO masih dapat masuk atau bertahan dalam LQ45 berdasarkan kriteria BEI, sementara pada saat yang sama tidak memenuhi liquidity requirement MSCI,” jelas Nafan.

Merujuk catatan data BEI, GOTO tercatat masih menjadi bagian dari konstituen LQ45, IDX30, IDX80, hingga KOMPAS100.

Penetapan jajaran emiten konstituen indeks tersebut mempertimbangkan rincian kriteria kuantitatif maupun kualitatif, seperti tingginya likuiditas transaksi di pasar reguler, bobot kapitalisasi pasar free float, perbaikan kinerja keuangan, hingga derajat kepatuhan emiten.

Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menuturkan, likuiditas transaksi saham GOTO mengalami penyusutan lumayan tajam seusai harga per lembar sahamnya tertahan di Rp 50. 

Sebelum bertengger di level dasar tersebut, menurut catatan Aditya, rata-rata nilai transaksi harian GOTO di pasar reguler sanggup menembus rentang Rp 300 miliar sampai Rp 400 miliar. 

Niatan transaksi tersebut belakangan merosot drastis di bawah Rp 50 miliar per hari, bahkan terkini berkisar Rp 3 miliar per hari.

“Untuk GOTO, ini lebih ke aspek teknis saja. Harga sudah Rp 50 selama tiga bulan dan orang susah jual beli dengan likuiditas perdagangan jadi kering,” kata Aditya.

Fundamental GOTO Mulai Membaik

Di tengah kemarau likuiditas transaksi sahamnya, Nafan mengamati sisi fundamental pergerakan bisnis GOTO sejatinya menunjukkan perbaikan. Sepanjang kuartal I 2026, GOTO berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 171 miliar. 

Sementara itu, capaian adjusted EBITDA menembus Rp 907 miliar alias melonjak 131 persen secara tahunan (year on year/YoY). Perolehan adjusted free cash flow GOTO juga bertengger di zona positif Rp 1,3 triliun.

Pihak manajemen turut mematok acuan target adjusted EBITDA sepanjang kurun 2026 pada kisaran Rp 3,2 triliun sampai Rp 3,4 triliun. 

Kendati demikian, pandangan Nafan menilai torehan fundamental tersebut belum serta-merta mengerek valuasi GOTO menjadi memikat lantaran tantangan struktur pasar dan likuiditas perdagangan saham tetap perlu ditimbang.

“Dengan kata lain, fundamental GOTO mulai membaik, tetapi market structure bahkan liquidity sahamnya justru menjadi masalah. Hal ini yang membuat valuasinya belum otomatis menarik hanya karena harga berada di Rp 50,” ujar Nafan.

Dampak GOTO Keluar dari MSCI

Didepaknya GOTO dari barisan MSCI berpeluang memantik gelombang aksi jual dari para pengelola dana pasif (passive fund) yang mengacu pada komposisi indeks MSCI. 

Aditya mengulas bahwa passive fund merancang portofolionya meniru susunan serta bobot emiten di dalam indeks patokannya. Karena itu, pergeseran konstituen MSCI tentu disusul langkah penyesuaian portofolio.

“Para pengelola dana pasif ini meramu portofolio saham yang berisikan saham-saham yang ada di dalam indeks dengan bobot serupa. Kalau ada satu saham dikeluarkan atau rebalance, maka passive fund juga harus melakukan hal yang sama,” kata Aditya.

Walau begitu, jajaran pemilik saham GOTO tidak semata diisi oleh pengelola dana pasif internasional. Saham GOTO juga dikempit oleh investor strategis, pemegang saham ritel, hingga pengelola dana aktif. 

Ditambah lagi, keberadaan GOTO di barisan indeks domestik membuat pengelola reksa dana, dana pensiun, serta entitas asuransi yang berkiblat pada indeks LQ45, IDX30, atau IDX80 tetap berpeluang menyimpan emiten ini dalam portofolio mereka.

“Ini artinya local fund seperti reksa dana, dana pensiun hingga asuransi yang menggunakan indeks IDX30, LQ45 dan IDX80 masih bisa stay di GOTO. Mereka ini AUM-nya juga banyak yang besar, jadi ketika GOTO dikeluarkan dari indeks global tidak berarti semua investor jualan,” ujar Aditya.

Nafan mengimbau agar pelaku pasar senantiasa mengamati daya serap pasar terhadap potensi tekanan jual pascalangkah rekonfigurasi MSCI berlaku efektif per 31 Agustus 2026. 

Apabila gelombang jual dari investor asing mereda, volume pelepasan saham sanggup ditampung oleh modal investor lokal, serta pijakan bisnis emiten tetap kokoh, maka tekanan dari forced selling justru dapat membuka celah koreksi yang menguntungkan investor. 

Namun, sikap selektif tetap krusial mengingat terdepaknya emiten dari MSCI berpotensi memangkas permintaan pasif dari basis investor penjelajah indeks secara berkelanjutan.

“Tetapi untuk GOTO dan saham yang keluar total dari MSCI, diperlukan selektivitas lebih tinggi karena hilangnya passive demand-nya lebih struktural,” kata Nafan.

Head of Corporate Affairs GoTo Audrey Petriny sebelumnya mengutarakan bahwa keputusan MSCI murni dipicu pertimbangan teknis perdagangan usai harga saham GOTO menetap di level Rp 50 serta diiringi penurunan intensitas transaksi.

“Keputusan ini murni bersifat teknis, menyusul harga saham GoTo yang berada di level terendah Rp 50 dan diikuti dengan volume perdagangan yang rendah dan tidak disebabkan oleh kinerja perseroan,” ujar Audrey dalam keterangan pers, Kamis (13/8/2026).

Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index