Indosat Targetkan Pendapatan AI NeoCloud Rp5,4 Triliun di 2027

Indosat Targetkan Pendapatan AI NeoCloud Rp5,4 Triliun di 2027
PT Indosat Tbk [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Indosat Tbk. (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison menargetkan kontribusi perolehan dari lini bisnis AI NeoCloud sebesar US$300 juta atau setara Rp5,4 triliun pada tahun 2027.

Head of Investor Relations Indosat Indar Dhaliwal menuturkan bisnis AI NeoCloud mencatatkan tren pertumbuhan positif seiring kian melonjaknya permintaan komputasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). 

Indosat memproyeksikan unit bisnis tersebut bakal memberikan sumbangsih yang makin signifikan terhadap pendapatan perusahaan.

“Kami expect dari 2027 ke depan, AI Neo Cloud akan mengkontribusi sebesar 300 juta dolar ke top line kami dengan EBITDA margin yang sangat tinggi yaitu 80%. So, ini lini bisnis yang baru yang memang sudah di-launch pada 2024, tetapi saat ini kontribusinya semakin naik, jadi, kalau lihat dari breakdown revenue kami tuh semakin besar kontribusinya dari AI Neo Cloud,” kata Indar dalam Update Bisnis IOH di YouTube @cuanloverscommunity pada Sabtu (15/8/2026).

Indar memaparkan bahwa AI NeoCloud merupakan lini bisnis penyedia daya komputasi AI berbasis GPU NVIDIA bagi konsumen di tanah air maupun penyedia layanan tingkat regional. 

Lini usaha tersebut diyakini menyimpan potensi pertumbuhan besar seiring tingginya kebutuhan akan infrastruktur AI.

Realisasi pendapatan AI NeoCloud pada tahun lalu tercatat US$28 juta atau setara Rp504 miliar. Sementara itu, perolehan bisnis tersebut hingga kini telah menyentuh angka US$33 juta atau setara Rp594 miliar. 

Indosat memproyeksikan perolehan AI NeoCloud dapat menembus US$100 juta atau setara Rp1,8 triliun pada 2026. Angka ini diperkirakan melonjak hampir empat kali lipat dari tahun sebelumnya, sebelum naik menjadi US$300 juta atau setara Rp5,4 triliun mulai 2027.

Indar menyampaikan bahwa sektor bisnis AI menjadi salah satu penggerak strategi Indosat untuk menciptakan mesin pertumbuhan baru di luar layanan telekomunikasi tradisional. 

Perusahaan tidak sekadar mengoptimalkan AI guna mendongkrak operasional yang berjalan, tetapi juga menggarap AI sebagai lini bisnis mandiri.

Indosat kini tengah membangun konsep AI Native Telco, yakni pengintegrasian AI ke seluruh aspek operasional perusahaan, termasuk penyediaan penawaran yang lebih personal bagi pengguna serta optimalisasi performa jaringan.

 Integrasi AI dalam bisnis telekomunikasi ini diwujudkan melalui hyper-personalization guna memberikan penawaran yang relevan dengan kebutuhan pengguna. Selain itu, AI dimanfaatkan untuk menopang efisiensi jaringan serta fungsi operasional internal.

Di sisi lain, Indosat mengamati adanya peluang besar dalam menciptakan bisnis baru berbasis AI melalui sovereign secure cloud dan AI NeoCloud. Perusahaan juga menjalin kolaborasi dengan sejumlah mitra global untuk menyediakan layanan AI Cloud bagi klien korporasi.

Sebagai penguat strategi infrastruktur AI, Indosat membentuk Zankore by Indosat lewat kemitraan bersama Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia.

 Indar menyebutkan bahwa pendirian Zankore diperlukan guna merespons tingginya permintaan infrastruktur AI tanpa mengganggu alokasi investasi Indosat pada sektor telekomunikasi utama, termasuk pengembangan jaringan 5G.

Indar menambahkan besarnya kebutuhan AI membuat sejumlah pemain infrastruktur AI global mulai melirik Indonesia sebagai tujuan investasi. 

Indonesia menjadi salah satu negara tujuan utama para pemain AI NeoCloud karena ditopang dua nilai tambah unggulan, yakni ketersediaan lahan dan pasokan energi.

Pengembangan pusat data AI memerlukan lahan luas, sementara Indonesia menyediakan ketersediaan lahan yang melimpah dengan harga yang bersaing. 

Di samping itu, ketersediaan energi menjadi faktor krusial mengingat pusat data membutuhkan konsumsi daya listrik dalam skala besar. 

Pada tahap awal, AI Factory Zankore by Indosat akan beroperasi dengan kapasitas 200 megawatt sehingga memerlukan pasokan energi yang solid.

“Posisi Indonesia itu sebenarnya ada energy surplus [kelebihan energi] jadi memang di sini banyak energinya itu dari sumbernya dari batubara, and Indonesia kan sangat bless lah [sangat diberkati] sebagai negara tuh punya a lot of land [banyak lahan] dan juga a lot of energy [banyak energi] untuk bisa develop AI Neo Cloud [mengembangkan AI Neocloud] di sini,” lanjutnya.

Indar membandingkan kondisi tersebut dengan Singapura yang terkendala keterbatasan lahan dan energi, serta Malaysia yang dinilai mulai menghadapi tekanan dari sisi permintaan daya listrik.

Dari aspek bisnis telekomunikasi dasar, Indosat tetap mengandalkan ekspansi basis pelanggan dan peningkatan monetisasi melalui kenaikan average revenue per user (ARPU). 

Indosat mencatat basis pelanggan saat ini mencapai kisaran 94 juta, sementara ARPU berhasil naik dari sekitar Rp33.000 pada awal merger menjadi Rp46.000 pada kuartal II/2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index