JAKARTA — PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) kembali menyita perhatian publik usai Presiden Prabowo Subianto mematok target bagi maskapai penerbangan milik negara tersebut untuk mulai mencetak laba pada awal 2027, setelah bertahun-tahun dibelit tekanan finansial.
Harapan tersebut disampaikan oleh Presiden Prabowo dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurut Kepala Negara, peluang Garuda untuk berbalik membukukan keuntungan kian terbuka seiring pemulihan armada yang sebelumnya banyak mengalami grounded.
Hingga Juni 2026, sebanyak 20 unit pesawat telah dioperasikan kembali sehingga total armada yang aktif mencapai sekitar 140 unit. Prabowo pun memproyeksikan apabila tidak meletus perang di kawasan Timur Tengah, sejatinya pada Juli ini maskapai BUMN tersebut sudah sanggup mencetak laba.
Rugi Garuda Mulai Terpangkas
Adapun emiten berkode saham GIAA tersebut belum mempublikasikan laporan keuangan untuk periode kuartal II/2026. Kendati begitu, sejauh ini nada optimistis pemerintah selaras dengan tren perbaikan kinerja Garuda Indonesia Group pada awal 2026.
Merujuk pada laporan kinerja hingga kuartal I/2026, rugi bersih konsolidasi GIAA menyusut sebesar 45,2% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$41,6 juta, dari posisi US$75,9 juta pada kurun waktu yang sama di tahun sebelumnya.
Pada periode yang sejenis, pendapatan usaha tercatat naik 5,4% yoy mencapai US$762,4 juta. Lini penerbangan berjadwal menjadi pilar utama dengan kontribusi pendapatan US$648,1 juta, tumbuh 7,4% yoy dan menyumbang sekitar 80% terhadap total pendapatan konsolidasi grup.
Perbaikan pun terlihat dari ranah operasional. Laba operasional atau EBIT melesat 47,2% yoy menyentuh US$46,5 juta, sementara EBITDA terangkat 7% menjadi US$210,4 juta. Seiring pertumbuhan pendapatan, Garuda juga sukses menekan beban usaha sebesar 0,7% menjadi US$713,2 juta. Porsi beban bahan bakar melandai 3,7% menjadi US$224,7 juta, sedangkan pengeluaran untuk pemeliharaan serta perbaikan pesawat turun 9,1% menjadi US$48,6 juta.
Proses pemulihan armada menjadi kunci penting di balik peningkatan kinerja tersebut. Hingga penutupan Maret 2026, total armada pesawat Garuda Indonesia Group tercatat sebanyak 142 unit, mencakup 78 unit pesawat Garuda Indonesia dan 64 unit pesawat Citilink.
Peningkatan kapasitas armada ini mendorong frekuensi penerbangan pada kuartal I/2026 naik 5,87% yoy menjadi 38.675 penerbangan. Jumlah penumpang juga tumbuh 6,76% mencapai 5,42 juta orang.
Sementara itu, passenger yield tercatat di angka 7,56 sen atau tumbuh 2,49% yoy, dengan seat load factor (SLF) konsisten terjaga di level 78,07%. Dari aspek ketepatan waktu, on time performance (OTP) Garuda Indonesia Group menguat ke level 91,01%, dari sebelumnya 87,93% pada kuartal I/2025.
Tambah Pesawat hingga Akhir 2026
Garuda pun masih melanjutkan langkah pemulihan serta ekspansi armadanya. Pada kuartal II/2026, perseroan menjadwalkan kedatangan empat unit Boeing 737-800. Di samping itu, dua unit Boeing 737-8 ditargetkan tiba pada akhir 2026.
Lewat kombinasi pemulihan armada, kenaikan jumlah penumpang, pertumbuhan pendapatan, serta efisiensi beban, target pemerintah agar Garuda berbalik untung pada awal 2027 kini memiliki pijakan kinerja yang kian solid.
Namun, tekanan dari faktor eksternal seperti pergerakan harga avtur dan dinamika geopolitik tetap menjadi risiko yang mesti diwaspadai karena berpotensi kembali menggerus margin maskapai.