JAKARTA – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) tengah memperkuat ekosistem end-to-end bio-metanol berbasis biogas di Tanah Air lewat tiga kerja sama strategis.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan ketiga kesepakatan tersebut meliputi Joint Development Agreement (JDA) bersama perusahaan teknologi Singapura, CRecTech Pte. Ltd., Heads of Agreement (HoA) bersama PT Pertamina Petrochemical Trading (Pertachem), serta Memorandum of Understanding (MoU) bersama Pertamina International Marketing & Distribution Pte. Ltd. (PIMD).
“Penandatanganan ini bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan bukti konkret bahwa kami sedang membangun rantai nilai secara lengkap, mulai dari produksi bersama CRecTech, domestic offtake bersama Pertachem, hingga membuka jalur menuju pasar bahan bakar maritim internasional bersama PIMD,” kata John.
Melalui JDA bersama CRecTech, Pertamina NRE bakal mengoperasikan fasilitas percontohan biogas-to-bio-methanol di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara.
Fasilitas dengan kapasitas produksi sekitar 50 ton bio-metanol per tahun ini akan mengolah biogas dari limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) di PLTBg Sei Mangkei milik Pertamina NRE.
Teknologi katalis CRecREF ciptaan CRecTech mampu menyederhanakan proses konversi biogas menjadi metanol hanya dalam dua tahap dari yang sebelumnya empat tahap pada metode konvensional, sehingga berpotensi memangkas biaya operasional hingga 50 persen.
“Pengembangan fasilitas percontohan ini akan menjadi basis bagi pengembangan proyek dalam skala komersial,” ujarnya.
Dari sisi komersialisasi, Pertamina NRE menjalin HoA bersama Pertachem guna membuka peluang penyerapan bio-metanol di pasar dalam negeri, termasuk menjajaki skema offtake jangka panjang untuk skala komersial.
John menjelaskan, upaya ini sangat penting mengingat kebutuhan metanol nasional hampir menyentuh dua juta ton per tahun, dengan sekitar dua pertiganya masih bergantung pada impor.
Sementara itu, melalui MoU dengan PIMD, Pertamina NRE menjajaki potensi distribusi dan pemasaran bio-metanol sebagai bahan bakar kapal (marine fuel/bunkering) di pasar global.
Langkah ini selaras dengan tren dekarbonisasi industri maritim dunia yang terus mendorong penggunaan bahan bakar ramah lingkungan.
Inisiatif ini, lanjut John, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam penyediaan bahan bakar maritim rendah karbon di pasar global.
Direktur Utama PT Pertamina Petrochemical Trading Aribawa menyampaikan, pengembangan bio-metanol berpotensi membuka fondasi bisnis baru yang dapat berkembang ke depannya.
“Bagi Pertachem, kesepakatan ini merupakan langkah nyata untuk membangun fondasi bisnis baru yang dapat terus berkembang,” ujarnya.