JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI secara resmi mengawali pengerjaan rumah susun (rusun) untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di area Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat (21/8/2026).
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan, proyek hunian ini bakal menyediakan hingga 3.784 unit tempat tinggal yang terbagi ke dalam delapan tower.
“Total unitnya itu 3.784,” ujar Bobby saat memberikan laporan dalam acara groundbreaking Hunian Manggarai, Jumat.
Kawasan hunian tersebut terbagi dalam dua zonasi, yakni Blok G serta Blok F. Blok G merangkum tiga tower dengan daya tampung 1.276 unit, sementara Blok F mencakup lima tower dengan jumlah 2.508 unit. Seluruh struktur tower dirancang berdiri setinggi 24 lantai.
Rinciannya di Blok G, tiga tower tersebut terdiri atas Tower A dengan 352 unit, Tower B menampung 418 unit, serta Tower C sebanyak 506 unit.
Adapun lima tower pada Blok F meliputi Tower 1 dan Tower 2 yang masing-masing memuat 572 unit, Tower 3 sejumlah 528 unit, Tower 4 berkapasitas 308 unit, dan Tower 5 sebanyak 528 unit.
Bobby menerangkan, hunian ini bakal menawarkan beragam pilihan tipe, mulai dari studio seluas 28 meter persegi, tipe 36, tipe 45, hingga tipe 52 dengan tiga kamar tidur.
Di samping unit hunian, area kawasan juga akan ditunjang oleh 150 unit tempat ritel pendukung, mencakup 72 unit di Blok G serta 78 unit di Blok F.
Manfaatkan Aset KAI
Menurut Bobby, eksekusi pembangunan hunian MBR ini memaksimalkan pendayagunaan aset milik KAI di wilayah Manggarai. Lahan yang dialokasikan bagi Blok G dan Blok F mencakup luas sekitar 2,2 hektar berstatus Hak Pengelolaan (HPL) dengan hak kepemilikan tanah di tangan KAI.
“Momentum ini merupakan penegasan bahwa aset perkeretaapian yang strategis dapat dioptimalkan secara bertanggung jawab untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Bobby.
Kendati difungsikan sebagai kawasan hunian, Bobby menegaskan alih fungsi aset tersebut tetap menempatkan aspek keselamatan dan kelancaran operasional kereta api sebagai prioritas utama.
Proses pembangunan hunian Manggarai ditargetkan berjalan selama 18 bulan terhitung sejak peletakan batu pertama (groundbreaking).
Bobby menuturkan, proyek ini menjadi bentuk partisipasi KAI mendukung Program 3 Juta Rumah dari pemerintah, utamanya dalam memasok hunian layak serta terjangkau bagi MBR di wilayah perkotaan.
“Hunian di tengah kota untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang sesuai dengan Permen yang telah dikeluarkan oleh Kementerian PKP,” ujar Bobby.
Dia mengimbuhkan, KAI bakal mengawal tata kelola agar fasilitas hunian tersebut tepat sasaran bagi masyarakat yang memenuhi kualifikasi MBR sesuai regulasi pemerintah.
Lewat skema pembangunan vertikal, proyek ini sekaligus mengoptimalkan efisiensi lahan KAI yang berada di lokasi strategis dan terhubung langsung dengan sistem transportasi publik.