JAKARTA — PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) menjalankan strategi perluasan jaringan 5G berlandaskan parameter yang terukur sebagai pedoman ekspansi, yang terbukti menjadi salah satu penopang peningkatan kinerja keuangan perusahaan sepanjang semester I/2026.
Anak perusahaan dari emiten BUMN PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) tersebut mempertimbangkan beberapa indikator utama dalam setiap pembangunan infrastruktur 5G.
Parameter tersebut meliputi tingkat kepadatan lalu lintas data, penetrasi perangkat yang mendukung 5G, kebutuhan aktual pelanggan, potensi penggunaan oleh sektor enterprise, hingga kesiapan spektrum dan ekosistem pendukung di area sasaran.
VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel Abdullah Fahmi menyampaikan bahwa ekspansi jaringan generasi kelima ini tidak sekadar bertumpu pada target jumlah site atau sekadar mengejar jangkauan wilayah yang luas.
Pembangunan fasilitas dilakukan secara selektif pada wilayah yang sudah memperlihatkan potensi pemanfaatan komersial secara nyata.
“Fokus Telkomsel bukan menjadi yang paling cepat memperluas cakupan, melainkan memastikan 5G hadir di lokasi yang tepat, pada waktu yang tepat, dan memberikan pengalaman digital yang benar-benar relevan bagi masyarakat maupun pelaku usaha,” ujar Fahmi, dikutip Kamis (27/8/2026).
Diketahui, sepanjang semester I/2026 Telkomsel telah mengoperasikan sekitar 6.000 BTS 5G. Walaupun mengalami kenaikan, jika dibandingkan dengan XLSMART dan Indosat, total tersebut masih berada di bawahnya.
Fahmi menerangkan bahwa perusahaan tidak menetapkan standar tunggal seperti batas minimum jumlah pelanggan atau rata-rata pendapatan per pengguna (average revenue per user/ARPU) tertentu untuk menghadirkan jaringan 5G di suatu lokasi.
Keputusan investasi diambil dengan memperhitungkan kombinasi variabel bisnis, teknis, serta tingkat kesiapan pasar secara menyeluruh.
Karakteristik geografis dan tingkat kebutuhan digital antarwilayah di Indonesia yang sangat beragam menuntut pola penggelaran jaringan yang fleksibel dan presisi.
“Pendekatan ini penting karena setiap wilayah memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda,” katanya.
Fahmi mengutarakan bahwa langkah efisiensi yang berdasar pada kebutuhan aktual pelanggan tersebut terbukti memberikan imbal hasil positif bagi kinerja finansial operator seluler terbesar di Indonesia ini.
Selama semester I/2026, Telkomsel mengantongi pendapatan sebesar Rp55,6 triliun, tumbuh 3,3% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Perusahaan juga membukukan peningkatan earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) sebesar 8,6% YoY menjadi Rp26,1 triliun.
Laba bersih Telkomsel melonjak 8,3% YoY mencapai Rp10,4 triliun pada paruh pertama tahun ini, didorong oleh peningkatan ARPU sebesar 9% YoY menjadi Rp45.600.
“Kami melihat strategi penggelaran jaringan yang lebih selektif dan berbasis kebutuhan pelanggan telah berkontribusi dalam menjaga efisiensi operasional, dan meningkatkan kualitas pengalaman digital pelanggan,” tutur Fahmi.
Bantah Ekspansi Melambat
Terkait arah kebijakan ekspansi ke depan, Telkomsel memastikan pola pengembangan terukur ini bakal terus dilanjutkan hingga akhir tahun maupun untuk periode tahun mendatang.
Langkah ini ditempuh demi menjaga keseimbangan antara pengalokasian belanja modal (capital expenditure) dan return atas investasi jaringan.
Fahmi menepis anggapan yang menyebutkan bahwa pendekatan selektif ini mengindikasikan adanya kelesuan atau penundaan komitmen pengembangan teknologi 5G di Tanah Air.
“Kami tidak melihat strategi ini sebagai perlambatan, melainkan penggelaran yang dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan pelanggan dan tingkat kesiapan ekosistem,” tegasnya.
Pertumbuhan permintaan masyarakat serta sektor industri terhadap jaringan berkecepatan tinggi dipastikan bakal terus dipantau.
Telkomsel akan menambah jangkauan infrastruktur 5G sejalan dengan peningkatan ketersediaan alokasi spektrum frekuensi dan akselerasi adopsi perangkat 5G di pasar ritel maupun korporasi.
Pengembangan teknologi 5G ditempatkan sebagai agenda jangka panjang guna membangun ekosistem digital nasional yang sehat, efisien, dan berkelanjutan.
Penetrasi yang terukur diyakini dapat memberikan nilai tambah yang lebih optimal bagi transformasi digital dunia usaha maupun perekonomian secara makro.