JAKARTA - PT Yudha Wahana Abadi (YWA), PT Anugerah Agung Prima Abadi (AAPA), dan PT General Aura Semari (GAS), tiga entitas anak PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) menyelenggarakan patroli gabungan dengan memantau lokasi-lokasi rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Merapun, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Rabu (2/9/2026).
Pada agenda patroli tersebut, dilaksanakan pula simulasi pemadaman api yang memperlihatkan tingkat kesiapan Satgas perusahaan sewaktu menanggulangi ancaman karhutla. Terhitung sepanjang 2026, ketiga entitas bisnis tersebut telah 37 kali memberikan bantuan pemadaman api di luar cakupan wilayah konsesi.
Mengenai kesiapan fasilitas serta sumber daya manusia, area operasional YWA, AAPA, dan GAS didukung 2 gudang pemadam kebakaran, 34 embung air sebagai penyuplai pasokan air pemadaman, 39 menara pantau guna mendeteksi titik api sejak dini, hingga 4 unit drone yang membantu pemantauan kondisi lapangan secara luas dan cepat.
Kesiapan tersebut ditopang oleh 3 Satgas Karhutla, 8 regu inti berisi 120 orang, 30 regu pendukung dengan 360 anggota, serta 4 regu Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang menghimpun 60 anggota. Adanya dukungan tersebut memungkinkan tim bertindak lebih sigap ketika indikasi api terdeteksi.
Senior Estate Manager YWA, AAPA, dan GAS, Jabeglin Purba, menerangkan bahwa kesiapsiagaan Karhutla perusahaan dirancang melalui tiga pilar pendekatan: preventif, promotif, serta kolaboratif.
"Pilar pencegahan Karhutla perusahaan kami turunkan dari komitmen untuk tidak hanya menjaga area kami, melainkan juga desa-desa sekitar bebas dari Karhutla. Karena itu, perusahaan juga secara aktif membantu memadamkan api di lahan-lahan. Dan di masa kemarau puncak seperti ini, kami juga rutin melakukan patroli gabungan dengan pemerintah setempat, aparat penegak hukum, dan masyarakat," ujar Jabeglin, Rabu (2/9/2026).
Menurut penjelasan Jabeglin, tindakan preventif direalisasikan lewat penegakan SOP pengendalian karhutla, pemetaan kawasan rawan, serta patroli yang disesuaikan dengan Fire Danger Rating (FDR).
Sementara itu, pendekatan promotif dijalankan melalui sosialisasi kepada pekerja dan warga sekitar, sedangkan pendekatan kolaboratif diwujudkan lewat sinergi bersama instansi pemerintah, aparat, serta kelompok masyarakat.
Sinergi tersebut dimaksimalkan melalui patroli gabungan yang konsisten diadakan bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika), melibatkan Camat, Kapolsek, dan Danramil setempat.
Patroli bersama ini mengincar lokasi rawan kebakaran di seputar area operasional maupun pemukiman penduduk, sekaligus berfungsi sebagai sarana koordinasi antara perusahaan, aparat pemerintah, dan pihak keamanan dalam mendeteksi potensi karhutla lebih awal.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Hermansyah menyebutkan sepanjang bulan lalu terdeteksi lebih dari 800 titik api (hotspot) di Kecamatan Kelay saja. Dari empat desa di kecamatan tersebut, Merapun mencatatkan titik api paling dominan sampai saat ini.
"Memang Kelay luar biasa, kami lihat titik hotspot-nya itu satu bulan terakhir, 800 lebih, dan yang tertinggi di Desa Merapun. Kami harap dukungan dari pihak swasta bisa dimaksimalkan untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam penanggulangan bencara kebakaran hutan dan lahan," tuturnya.
Saat Api Menjalar ke Lahan Warga
Di tempat terpisah, Herman, seorang warga Desa Merapun, menjadi salah satu saksi peristiwa kebakaran di kawasan dekat lahannya yang berada di luar area hak guna usaha (HGU) perusahaan.
Menyaksikan api yang mulai merambat, Herman bergegas mengontak PT YWA untuk meminta bantuan. Tak berselang lama, armada pemadam perusahaan tiba di lokasi dan api berhasil dipadamkan melalui bantuan Satgas Karhutla perusahaan.
"Saat itu siang ada api dari area samping yang lompat ke lahan saya, saya langsung menelepon PT YWA untuk meminta bantuan pemadaman. Tak lama mobil Damkar datang datang dan saya dibantu memadamkan api hingga usai aampai menggunakan dua tangki air mobil Damkar,” tutur Herman.
Jabeglin menegaskan bahwa bagi perusahaan, keikutsertaan dalam penanganan pemadaman di luar area konsesi merupakan bagian dari komitmen membangun sistem pencegahan karhutla yang terintegrasi.
Sebab, kebakaran tidak memandang batas administratif maupun batas wilayah konsesi, sehingga penanggulangan dan pencegahannya memerlukan sinergi erat antara perusahaan, pemerintah, aparat, dan warga.
Berbekal kesiapsiagaan ini, TAP tak sekadar menjaga wilayah operasionalnya sendiri, tetapi turut mengambil peran dalam melindungi lingkungan dan keselamatan masyarakat di sekeliling wilayah operasional dari bahaya karhutla.