JAKARTA — PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) mulai menguji coba skema sistem biometrik guna mempermudah serta mempercepat proses pelayanan penumpang, mulai dari Bandara Soekarno-Hatta sampai Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Direktur Utama InJourney Airports Mohammad Rizal Pahlevi menjelaskan, skema teknologi ini bakal membuat proses identifikasi penumpang ke depannya dilakukan via pemindaian biometrik dan pengenalan wajah (face recognition), sehingga penumpang tidak wajib berulang kali memperlihatkan KTP.
Rizal menyebutkan bahwa implementasi biometrik ini merupakan bagian dari langkah transformasi pelayanan demi mewujudkan operasional bandara yang kian seamless.
“Jadi kami mengharapkan kegiatan operasi, kegiatan pelayanan di bandara itu lebih seamless sehingga penumpang tidak perlu ribet dan punya waktu luang lebih luas," kata Rizal, dikutip pada Jumat (4/9/2026).
Ia menyampaikan, pengerjaan prototipe sistem biometrik tersebut saat ini tengah berjalan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Langkah pengembangan serupa turut dilakukan di Bandara Juanda, Surabaya, serta telah mulai diterapkan pada segmen layanan domestik di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Rizal mengungkapkan, pemanfaatan sistem modern ini nantinya bakal diperluas ke berbagai bandara strategis lainnya di bawah naungan pengawasan InJourney Airports.
Arah transformasi teknologi tersebut ditujukan untuk memangkas tahapan verifikasi identitas fisik secara manual. Berbekal teknologi biometrik dan pemindaian face recognition, penumpang nantinya tak perlu lagi mengeluarkan fisik KTP saat melewati verifikasi di tiap alur pelayanan.
"Kami tahu bahwa antrean dulunya KTP satu-satu dicek, ke depannya tidak perlu lagi menunjukkan KTP. Tetapi sekarang masih, hanya lebih simpel," ujarnya.
Penggunaan inovasi serupa sebelumnya juga telah diterapkan memanfaatkan fasilitas autogate pada beberapa titik area layanan di bandara internasional.
Rizal menuturkan, mayoritas fasilitas autogate telah aktif beroperasi, meskipun ada sejumlah titik yang masih berada dalam periode pengujian. Rangkaian proses ini mencakup integrasi pengolahan data Dukcapil dan data paspor untuk kebutuhan alur penumpang rute internasional.
"Syukur alhamdulillah di dalam jam-jam peak ini sangat membantu dan ini sangat memberikan layanan antrean yang ada di bandara internasional kami," kata Rizal.
Rizal mengemukakan, terobosan transformasi layanan ini diharapkan mempermudah alur aksesibilitas penumpang di bandara. Sistem yang dikembangkan ini dirancang untuk meminimalisasi kendala administratif yang kerap muncul sewaktu penumpang mesti memamerkan berkas dokumen fisik secara manual.