JAKARTA — PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) mencatatkan perjalanan performa finansial yang beraneka ragam sepanjang periode 2014–2025.
Perolehan pendapatan perseroan dalam satu dekade belakangan melesat lebih dari tiga kali lipat, meski tren pertumbuhan itu tidak senantiasa diiringi dengan kenaikan laba bersih.
Merujuk pada publikasi laporan keuangan tahunan PTBA, pendapatan perseroan merambat naik dari Rp13,08 triliun pada 2014 menjadi Rp42,65 triliun pada 2025.
Di sisi lain, perolehan laba bersih bergerak jauh lebih dinamis dan sempat menembus rekor Rp12,57 triliun pada 2022 sebelum akhirnya terkoreksi ke level Rp2,93 triliun pada 2025.
Pada 2014, PTBA mengantongi pendapatan sebesar Rp13,08 triliun dengan raihan laba bersih Rp1,86 triliun. Setahun setelahnya, perolehan omzet naik 5,87% menjadi Rp13,85 triliun, sementara laba bersih terangkat 9,41% ke posisi Rp2,04 triliun.
Memasuki 2016, laju pertumbuhan performa PTBA tampak mereda. Pendapatan hanya tumbuh tipis 1,54% menjadi Rp14,06 triliun, sedangkan laba bersih tergerus 1,46% ke rentang Rp2,01 triliun.
2017 Menjadi Titik Balik
Perubahan signifikan mulai tampak pada 2017. Pendapatan PTBA melesat 38,50% hingga menyentuh Rp19,47 triliun. Lonjakan omzet tersebut melandasi kenaikan laba bersih hingga 123,13% menjadi sekitar Rp4,48 triliun.
Laju positif berlanjut pada 2018. Omzet naik 8,71% menjadi Rp21,17 triliun, disusul laba bersih yang melompat 12,23% ke angka Rp5,02 triliun. Pada periode ini, laba bersih PTBA untuk pertama kalinya melampaui Rp5 triliun.
Namun, pada 2019 laba bersih kembali menyusut 19,25% menjadi Rp4,06 triliun. Penurunan keuntungan ini terjadi di tengah pendapatan yang tetap tumbuh 2,93% mencapai Rp21,79 triliun.
Pandemi Tekan Pendapatan dan Laba
Tekanan operasional makin berhembus pada 2020 kala pandemi Covid-19 ikut memengaruhi dinamika kinerja perseroan. Perolehan omzet PTBA melorot 20,48% ke Rp17,33 triliun, sementara laba bersih terkoreksi 41,17% menjadi Rp2,39 triliun.
Kondisi PTBA kemudian berbalik bangkit pada 2021. Pendapatan melonjak 68,90% menjadi Rp29,26 triliun, sedangkan perolehan laba bersih melesat 231,37% ke level Rp7,91 triliun.
Tren kenaikan itu berlanjut pada 2022. Pendapatan PTBA menembus Rp42,65 triliun atau melejit 45,75% secara tahunan. Pada masa yang sama, laba bersih mengukir rekor tertinggi Rp12,57 triliun, alias melonjak 58,90% dari perolehan tahun sebelumnya.
Memasuki Periode Normalisasi
Usai membukukan puncak kinerja pada 2022, PTBA mulai melangkah ke masa normalisasi. Pada 2023, pendapatan susut 9,75% menjadi Rp38,49 triliun. Koreksi lebih dalam membayangi laba bersih yang tergerus 51,42% menjadi Rp6,11 triliun.
Raihan omzet kembali meningkat pada 2024 sebesar 11,11% mencapai Rp42,76 triliun. Akan tetapi, laba bersih masih tertekan 16,41% menjadi Rp5,10 triliun.
Pada 2025, omzet PTBA tergolong stabil di kisaran Rp42 triliun. Pendapatan tercatat sebesar Rp42,65 triliun atau terkoreksi tipis 0,26% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Berbeda dengan pendapatan yang sanggup bertahan di rentang tersebut, perolehan laba bersih kembali mengalami penurunan. Pada 2025, laba bersih PTBA merosot 42,59% menjadi Rp2,93 triliun.
Tabel Kinerja PTBA 10 Tahun Terakhir Semester I/2026
Tekanan pada laba PTBA masih berlanjut hingga semester I/2026. Perseroan mengantongi omzet Rp22,03 triliun dengan laba bersih Rp2,65 triliun.
Apabila disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan PTBA terangkat sekitar 7,7%, sementara laba bersih tumbuh 218,1%.
Dalam kurun waktu lebih dari satu dekade, rekam jejak PTBA menampilkan arah pergerakan yang berbeda antara omzet dan laba bersih. Perolehan pendapatan merambat naik dari Rp13,08 triliun pada 2014 hingga bertahan di atas Rp42 triliun pada kurun 2024–2025.
Di sisi lain, laju laba bersih bergerak cenderung bergejolak. Laba perseroan sempat menyentuh rekor tertinggi Rp12,57 triliun pada 2022, sebelum akhirnya kembali tergerus menjadi Rp2,93 triliun pada 2025.