Pertamina Targetkan Distribusi Biodiesel B50 Tembus 100% Oktober 2026

Pertamina Targetkan Distribusi Biodiesel B50 Tembus 100% Oktober 2026
ilustrasi BBM B50 [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Pertamina Patra Niaga membeberkan bahwa penyaluran Biodiesel 50% (B50) saat ini telah menyentuh angka 95% di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh wilayah Indonesia.

Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menyampaikan bahwa sekitar 5% area yang belum terjangkau B50 saat ini masih menjalani tahapan transisi akhir guna menghabiskan sisa persediaan B40.

Menurut pemaparannya, situasi tersebut utamanya berlangsung di wilayah regional Maluku dan Papua yang sebelumnya menyimpan tingkat ketahanan stok B40 yang cukup besar.

“Kami menargetkan pada akhir September atau Oktober ini, seluruh wilayah sudah 100% mendistribusikan B50,” kata Eko dalam Temu Media Nasional Subholding Downstream di Pertamina Fuel Terminal Rewulu, Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9/2026).

Eko menjamin bahwa dinamika perkembangan distribusi biosolar tersebut dilaporkan secara rutin kepada kementerian, instansi terkait, hingga pemangku kepentingan yang memegang fungsi pengawasan.

Ia menegaskan bahwa program inisiatif B50 yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juli lalu merupakan mandat yang diamanahkan kepada Pertamina Patra Niaga untuk menuntaskan periode transisi dari B40 menuju B50 dalam jangka waktu tiga bulan.

Eko mengungkapkan bahwa regulasi B50 perlu digarisbawahi sebagai salah satu agenda strategis pemerintah. Menurutnya, penerapan B50 juga memposisikan Indonesia sebagai pelopor, bahkan satu-satunya di tingkat global yang sukses mengaplikasikan bahan bakar hayati berbasis minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) hingga taraf campuran B50.

“Pertamina Patra Niaga selalu siap mendukung roadmap pemerintah, bilamana ketersediaan bahan baku sawit mencukupi, tidak menutup kemungkinan transisi dapat berlanjut ke B60 hingga B100 secara bertahap,” kata Eko.

Sebelumnya, Kadin Indonesia Institute menyoroti bahwa penerapan B50 dapat menekan tingkat ketergantungan pada impor minyak solar. 

Walau begitu, para pelaku di sektor industri kelapa sawit mengingatkan agar peningkatan alokasi kebutuhan domestik tetap diselaraskan dengan kapasitas produksi serta ketersediaan pasokan bahan baku.

Pemerintah memproyeksikan bahwa keberadaan B50 sanggup mengeliminasi sekitar 18 juta kiloliter impor solar sekaligus menghemat cadangan devisa hingga kisaran Rp170 triliun.

Director of Insight Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian menilai bahwa dampak efisiensi tersebut menjadikan B50 tidak sekadar berfungsi sebagai instrumen substitusi impor, melainkan juga berpotensi memicu transformasi di sektor industri.

Menurut Fakhrul, besarnya penghematan devisa hasil alokasi B50 mampu meredam kerentanan Indonesia terhadap fluktuasi harga minyak mentah dunia sekaligus menekan beban kebutuhan pembiayaan dari pihak eksternal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index