PLN-Pelindo Operasikan OPS 1 MVA di Tanjung Priok, Hemat 700 Liter BBM per Sandar

Jumat, 18 September 2026 | 19:09:00 WIB

NARASIINDONESIA.ID — PT PLN (Persero) bersama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) meresmikan dua unit Onshore Power Supply (OPS) berkapasitas total 1 MVA di Dermaga Serbaguna Nusantara, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (16/9/2026). Fasilitas ini jadi unit pertama dari rencana 24 unit OPS di Tanjung Priok yang menyasar dekarbonisasi sektor maritim. Uji coba menunjukkan efisiensi BBM hingga 700 liter dalam sekali sandar kapal.

Dua unit OPS itu dibangun dan dioperasikan PT Energi Pelabuhan Indonesia (EPI), perusahaan patungan antara PT PLN Electricity Services dan PT Pelindo Jasa Maritim. Masing-masing unit berkapasitas 500 kilovolt ampere (kVA).

Fasilitas ini memungkinkan kapal yang bersandar mematikan mesin diesel dan beralih ke pasokan listrik dari darat. Langkah ini menyasar sumber emisi terbesar kapal di pelabuhan, yakni genset yang menyala selama proses sandar.

Dukungan Listrik PLN untuk Green Port

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan penyediaan listrik untuk OPS sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dekarbonisasi industri. Menurutnya, transformasi menuju Green Port butuh pasokan listrik andal di kawasan pelabuhan.

"Kehadiran fasilitas OPS di Tanjung Priok menjadi solusi untuk mengurangi emisi dari kapal selama bersandar di pelabuhan. Melalui OPS, kebutuhan listrik kapal dapat dipenuhi dari sumber listrik di darat, sehingga penggunaan mesin diesel dapat ditekan," kata Darmawan.

Ia menambahkan, langkah ini bagian dari upaya PLN mendukung dekarbonisasi sektor maritim sekaligus mendorong ekosistem pelabuhan yang lebih hijau. Dukungan kelistrikan itu juga disebut memperkuat elektrifikasi sektor maritim yang butuh pasokan andal selama kapal beroperasi di pelabuhan.

Sinergi BUMN di Sektor Kepelabuhan

Darmawan menyebut penyediaan listrik untuk OPS sebagai bentuk sinergi BUMN dalam mendukung transformasi kepelabuhan. Pemanfaatan energi domestik itu diharapkan menekan biaya pelaku usaha maritim sekaligus mengoptimalkan aktivitas pelabuhan.

Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar menilai pengoperasian OPS jadi bagian penting transformasi kawasan pelabuhan menuju operasional yang lebih hijau dan efisien. Ia menekankan OPS bukan sekadar pengganti genset kapal.

"OPS bukan sekadar menggantikan sumber listrik kapal dari genset menjadi listrik darat. Ini merupakan langkah konkret dalam transformasi Pelabuhan Tanjung Priok menuju green port, dengan menghadirkan energi yang lebih efisien, lebih bersih, dan lebih andal," kata Achmad.

Efisiensi BBM hingga 700 Liter per Sandar

Fasilitas OPS di DSN Tanjung Priok menjadi yang pertama di Indonesia yang lulus uji standar internasional IEC/IEEE 80005-3:2025. Keandalannya teruji lewat uji coba penyambungan penuh pada Juli lalu, yang memungkinkan seluruh genset kapal dimatikan selama bersandar.

Listrik dari jaringan PLN disalurkan ke kapal melalui fasilitas konversi yang mendukung kebutuhan frekuensi 50 hertz (Hz) maupun 60 Hz. Sistem ini mampu melayani dua hingga empat kapal secara bersamaan.

Direktur Utama PT Energi Pelabuhan Indonesia Andriyuda Siahaan mengungkapkan hasil uji coba menunjukkan efisiensi BBM signifikan dalam sekali sandar. "Kita lakukan uji coba, tidak sampai 24 jam efisiensinya mencapai sekitar 700 liter (setara 50 hingga 60 persen per hari sandar)," ujarnya.

Rencana 123 Unit OPS hingga 2050

Pengembangan OPS akan dilakukan bertahap, dimulai dari kawasan Pelabuhan Tanjung Priok sebanyak 24 unit pada 2027. Dari situ, fasilitas berpotensi direplikasi ke terminal multipurpose, dermaga umum, serta pelabuhan lain hingga mencapai 123 unit OPS pada 2050.

Implementasi penuh 24 unit berkapasitas total 12 MVA diperkirakan menghemat 4–5 juta liter BBM per tahun. Potensi penurunan emisi dari program ini pun disebut signifikan seiring bertambahnya unit yang beroperasi.

Bagi pelaku usaha maritim, OPS menawarkan penghematan biaya bahan bakar yang selama ini jadi komponen besar ongkos operasional kapal. Bagi PLN, program ini memperluas pasar listrik di sektor yang sebelumnya bergantung pada energi fosil.

Keberhasilan OPS di Tanjung Priok akan jadi acuan replikasi ke pelabuhan lain. Skala pengembangannya hingga 2050 menunjukkan dekarbonisasi maritim ditempatkan sebagai proyek jangka panjang, bukan sekadar uji coba terbatas.

Terkini